Kumpulan eBook Islami

Friday, 10 March 2006

Ahmad Wahib Menafikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai Dasar Islam

Filed under: Bahaya Islam Liberal,e-Book — adji @ 3:00 am

Ahmad Wahib Menafikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai Dasar Islam

Setelah Ahmad Wahib berbicara tentang Allah dan Rasul-Nya dengan dugaan-dugaan, “menurut saya” atau “saya pikir”, tanpa dilandasi dalil sama sekali, lalu di bagian lain, dalam Catatan Harian Ahmad Wahib ia mencoba menafikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai dasar Islam. Dia ungkapkan sebagai berikut:

Kutipan:
” Menurut saya sumber-sumber pokok untuk mengetahui Islam atau katakanlah bahan-bahan dasar ajaran Islam, bukanlah Qur’an dan Hadits melainkan Sejarah Muhammad. Bunyi Qur’an dan Hadits adalah sebagian dari sumber sejarah dari sejarah Muhammad yang berupa kata-kata yang dikeluarkan Muhammad itu sendiri. Sumber sejarah yang lain dari Sejarah Muhammad ialah: struktur masyarakat, pola pemerintahannya, hubungan luar negerinya, adat istiadatnya, iklimnya, pribadi Muhammad, pribadi sahabat-sahabatnya dan lain-lainnya.” (Catatan Harian Ahmad Wahib, hal 110, tertanggal 17 April 1970).

Tanggapan:
Ungkapan tersebut mengandung pernyataan yang aneka macam.

1. Menduga-duga bahwa bahan-bahan dasar ajaran Islam bukanlah Al-Quran dan Hadits Nabi saw. Ini menafikan Al-Quran dan Hadits sebagai dasar Islam.

2. Al-Qur’an dan Hadits adalah kata-kata yang dikeluarkan oleh Muhammad itu sendiri. Ini mengandung makna yang rancu, bisa difahami bahwa itu kata-kata Muhammad belaka. Ini berbahaya dan menyesatkan. Karena Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah SWT yang dibawa oleh Malaikat Jibril, disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun lebih. Jadi Al-Qur’an itu Kalamullah, perkataan Allah, bukan sekadar kata-kata yang dikeluarkan Muhammad itu sendiri seperti yang dituduhkan Ahmad Wahib.
Allah SWT menantang orang yang ragu-ragu:
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS Al-Baqarah: 23).

3. Al-Qur’an dan Hadits dia anggap hanya sebagian dari sumber sejarah Muhammad, jadi hanya bagian dari sumber ajaran Islam, yaitu Sejarah Muhammad. Ini akal-akalan Ahmad Wahib ataupun Djohan Effendi, tanpa berlandaskan dalil.

4. Al-Qur’an dan Hadits disejajarkan dengan iklim Arab, adat istiadat Arab dan lain-lain yang nilainya hanya sebagai bagian dari Sejarah Muhammad. Ini menganggap Kalamullah dan wahyu senilai dengan iklim Arab, adat Arab dan sebagainya. Benar-benar pemikiran yang tak bisa membedakan mana emas dan mana tembaga. Siapapun tidak akan menilai berdosa apabila melanggar adat Arab. Tetapi siapapun yang konsekuen dengan Islam pasti akan menilai berdosa apabila melanggar Al-Qur’an ddan AAs-Sunnah. Jadi tulisan Ahmad Wahib yang disunting Djohan Effendi iitu jjelas mmerusak pemahaman Islam dari akarnya. Ini sangat berbahaya, karena landasan Islam yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah/ Hadits telah dianggap bukan landasan Islam, dan hanya setingkat dengan adat Arab. Mau ke mana arah pemikiran duga-duga tapi sangat merusak Islam semacam ini?

Pandangan-pandangan berbahaya semacam itulah yang diangkat-angkat orang pluralis (menganggap semua agama itu paralel, sama, sejalan menuju keselamatan, dan kita tidak boleh melihat agama orang lain pakai agama yang kita peluk) yang belakangan menamakan diri sebagai Islam Liberal.

8 Comments »

  1. ik pernah baca karangan karen armstrong brjdl “muhammad”, ik pnya pandangan baru yg make sense..nabi saw mendapat wahyu dari allah,wahyu itu merupakan “ide”/”pencerahan” yg kemudian “disampaikan” kepada ummat.”pencerahan” yg agung (karena dari ALLAH) tsb yg kemudian dibukukan dlm alquran.ik bisa paham pemikiran dari ahmad wahib,
    ahmad wahib mengemukakan pentingnya sejarah nabi,ya benar juga bukankah utk dapat mamahami tafsir al quran kta harus menguasai asbabun nuzul (riwayat turunnya)tentu saja sulit bagi kita mamahami ayat tanpa tahu asal usulnya dan kta bisa salah tafsir …
    wallahu alam

    Comment by crisron25 — Monday, 6 August 2007 @ 5:48 am | Reply

  2. Memang kalau mau membaca dengan pikiran orang lain, kita sebaiknya memakai kaca mata orang itu. jangan memakai kaca mata sendiri.
    Saya saluut dengan ahmad wahib, karena kejujurannya dia berani menyampaikan pikiran yang penuh kegelisahan. Kita kadang tidak berani menyampaikan apa yang kita pikirkan secara jujur (hidup-sesudah-mati.blogspot.com)
    Thanks

    Comment by hidupsesudahmati — Tuesday, 17 June 2008 @ 5:09 pm | Reply

  3. untuk yang diatas memang benar bahwasanya keberanian berfikir dan keliaran dalam mengarungi dunia dengan flosofis dan penuh spekulasi terkadang patut diberi apresiasi, tapi tak selamanya keliaran berfikir kita jadikan pijakan, ada asa dan norma yang harus dipegang ketika berfikir, berpendapat dan bertindak,tak ada satupun hal didunia ini yang hadir tanpa seperangkat aturan, begitu juga dengan “frame of thinking” manusia..

    ketahuilah saudaraku, ketika anda mengatakan “kita sebaiknya memakai kaca mata orang itu. jangan memakai kaca mata sendiri.” secara tidak langsung anda justru sudah mengingkari apa yang anda katakan, anda mengatakan itu berdasarkan kacamata anda sendiridan ketika saya menulis komen inipun pada hakikatnya saya sudah melakukan apa yang anda katakan.

    wallahualam bishawab

    Comment by ibnunashr — Tuesday, 12 October 2010 @ 9:58 pm | Reply

    • siapa bilang kalo tindakan pluralisme itu adalah tindakan toleransi? berarti itu gak mengakui adanya pluralitas dong? bahkan anak bocah abg aja banyak mau yang jadi beda dan eksklusif dan anak2 punk aja doyan mengeksklusifkan diri😀

      kadang hati dan tindakan mesti sejalan, sama aja kalo bilang sedekah itu mesti ikhlas tapi jarang sedekah, karena nunggu ikhlasnya, sama aja juga kaya mau usaha tapi belom ada modal duit, mungkin kalo tauhid itu cuma ada di hati tanpa ada tindakan jatohnya kaya prokrastinasi😀

      Comment by anaksalaharah — Friday, 22 June 2012 @ 4:48 pm | Reply

  4. lihatlah kebaikan dan pasti semua ada hikmahnya… kehidupan beragama yang solid dan dijalin dengan rasa persatuan dan kesatuan perlu memahamkan diri kita bahwa penganut agama lain itu bukan musuh kita tetapi pendamping hidup. bagaimana kita bisa hidup berdampingan apabila menganggap semua orang dari agama lain musuh dan harus diperangi? konsep mempersamakan agama adalah konsep toleransi yang tidak mencampur-adukkan tauhid. tauhid itu letaknya di hati bukan di mulut.

    Comment by anggerjohar — Wednesday, 4 May 2011 @ 3:30 pm | Reply

  5. setuju dg sodara anngerjohar …

    Comment by freezinghearts — Wednesday, 10 August 2011 @ 3:47 am | Reply

  6. i appreciate @ Ahmad Wahib,
    independen, berani, dan tetap arif dalam pemikiran2nya.
    smoga Rahmatullah slalu bersama beliau -_-
    dan mampu menginspirasi para generasi muda masa kini
    yg bergelut dg bermacam tantangan

    Comment by vivi yunita aisyah (@viviaisyah) — Thursday, 22 December 2011 @ 1:56 pm | Reply

  7. Setiap orang (kecuali Nabi) pasti ada positif dan negatifnya, begitu pun dengan Ahmad Wahib sendiri. Kita generasi sekarang haruslah mencontoh yang baik-baik saja dari generasi dahulu.

    Comment by Deni Asmayadi — Sunday, 13 May 2012 @ 1:07 pm | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: