Kumpulan eBook Islami

Friday, 10 March 2006

Dikenal Nyeleneh

Filed under: Bahaya Islam Liberal,e-Book — adji @ 2:58 am

Dikenal Nyeleneh

Nama-nama yang terdaftar sebagai kontributor (penyumbang) Jaringan Islam Liberal itu ada beberapa orang yang sudah dikenal nyelenehnya. Memang faham inklusif dan pluralisme itu sendiri jelas bertabrakan dengan Islam. Pluralisme menganggap semua agama itu paralel, sejalan, hanya beda teknis, tapi prinsipnya sama. Sedangkan Islam ada garis tegas dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Nanti insya Allah saya kemukakan dalil-dalil untuk menolak faham pluralisme dan inklusif itu, namun sebelumnya mari kita simak beberapa lontaran dari para tokoh Islam Liberal itu.

Nurcholish Madjid sebagaimana telah kita bahas di atas, sampai-sampai dia melontarkan bahwa fikih telah kehilangan relevansinya dalam kehidupan modern sekarang ini. Antara apa yang ia lontarkan itu sendiri dengan gagasan/ pemikiran yang ia lontarkan pula, tidak ada kecocokan. Coba kita tanyakan: Apa relevansinya dengan kehidupan modern sekarang ini, hingga sempat-sempatnya Nurcholish Madjid melontarkan:
1. Makna Laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan selain Allah) ia ubah jadi Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar). Lontaran itu dalam makalah seminarnya yang diselenggarakan Harian Pelita, Jakarta, April 1985. Hingga seorang peserta memprotesnya, dan menyatakan penerjemahan semacam itu hukumnya haram, karena mengaburkan makna Tauhid (keesaan Allah). Kata Dr Bachtiar Effendi dosen IAIN Jakarta dan perguruan tinggi lainnya yang sebenarnya dia juga orang yang dekat dengan Nurcholish: Ungkapan Cak Nur (Nurcholish) itu cari kerjaan saja. Itu kan sama saja dengan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang ingin mengganti Assalamu’alaikum jadi Selamat pagi. Di kalangan awam kan kemudian bisa difahami, apakah boleh ketika kita mengakhiri shalat, saat menengok ke kanan dan kekiri, dengan mengucapkan: Selamat pagi, Selamat pagi.. Kan itu namanya cari kerjaan.
2. Apa relevansinya, Nurcholish Madjid mengartikan Islam itu bukan nama agama, tapi sikap pasrah, sehingga akibatnya, orang non Islam yang juga punya sikap pasrah jadi risih. “Orang saya tidak Islam kok dikatakan Islam, itu bagaimana?”
3. Apa relevansinya Nurcholish Madjid menyebut orang Konghuchu, Hindu, Budha, dan Sinto itu adalah orang Ahli Kitab juga sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani, karena menurut Nurcholish, alasannya adalah: setiap kaum itu ada nadzir-nya (pemberi peringatan). Jadi mereka, menurut Nurcholish, adalah Ahli Kitab juga. Tetapi kenapa penyembah berhala di Arab tidak dimasukkan sebagai Ahli Kitab, padahal justru mereka masih berhaji mengamalkan ibadah Nabi Ibrahim? Padahal justru Nabi Ibrahim itu jelas nabi, dan juga punya shuhuf/ kitab?
4. Apa relevansinya dengan kehidupan modern ini, Nurcholish Madjid mengatakan bahwa musyrikat (wanita musyrik) yang tidak boleh dinikahi menurut Al-Qur’an itu hanya musyrikat Arab? Padahal, kalau alasannya seperti point 3 tersebut di atas, justru wanita musyrik Arab punya kitab alias Ahli Kitab, karena mengamalkan ibadah haji yang diwarisi dari Nabi Ibrahim as.
Lontaran-lontaran Nurcholish Madjid itu sendiri tidak ada relevansinya dengan kehidupan modern sekarang ini, bahkan menabrak ajaran Islam. Tetapi dia justru berani mengatakan, fikih telah kehilangan relevansinya.

Tokoh lainnya, Masdar F Mas’udi adalah orang yang banyak bergaul dengan para kiai NU (Nahdlatul Ulama), karena dia memang orang NU secara struktural maupun secara pendidikan dulunya. Masdar Farid Mas’udi ini kenalan baik saya, karena sama-sama dari IAIN Yogya. Dia juga wartawan seperti saya. Tetapi dia namanya jadi melejit sejak punya gagasan agar ibadah haji tiap tahun itu waktunya diperluas, bukan hanya pada bulan Dzulhijjah. Karena di dalam Al-Qur’an disebutkan, Al-Hajju asyhurun ma’luumaat, ibadah haji itu pada bulan-bulan tertentu, yaitu Syawal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah. Maka, menurut Masdar, ayat Al-Qur’an itu jangan dikorbankan oleh hadits al-Hajju ‘Arofah, ibadah haji itu Arafah (9 Dzulhijjah di padang Arafah).

Secara sekilas, usulan itu seakan logis. Tetapi ibadah haji itu ada ayatnya, ada haditsnya, dan ada praktek Nabi saw. Sedang Nabi saw memerintahkan: Khudzuu ‘annii manaasikakum (ambillah dariku tatacara ibadah hajimu). Karena ibadah haji itu mengenai waktu dan tempatnya pun termasuk hal-hal yang ditentukan, maka usulan Masdar itu menjadi aneh.

Kenapa?
Karena hal-hal mengenai ketentuan ibadah itu dalam Islam disebut tauqifi, sudah ditentukan, umat Islam tinggal ikut dan ta’at. Dalam istilah ushul fiqh, namanya ta’abbudi, yaitu wilayah ibadah yang sifatnya bukan ta’aqquli (wilayah akal). Pak Munawir Sjadzali yang dikenal ingin merungubah hukum waris Islam mengenai bagian anak laki-laki dibanding perempuan 2:1 akan dijadikan 1:1 saja beliau mengatakan takut untuk menyentuh wilayah ibadah. Sampai-sampai beliau sering sekali mencontohkan Umar bin Khathab yang mengatakan bahwa Hajar Aswad itu hanya batu, tetapi karena Umar melihat Nabi saw menciumnya maka Umar pun ikut menciumnya, karena ini masalah ibadah. Jadi dalam hal ibadah, kita hanya sebagai pengikut. Hanya saja Pak Munawir taat pada satu perkara tapi menyelisihi dalam perkara lainnya, yaitu ayat yang sudah jelas qoth’i (pasti) pengertiannya, masih mau dia ubah. Maka tidak bisa. Jadinya, Masdar lebih “maju” ketimbang Pak Munawir, tetapi justru lebih tidak bisa diterima untuk mengubah waktu yang berkaitan dengan ibadah haji. Sedang Pak Munawir pun tak bisa mengubah ketentuan hukum waris Islam, walaupun dia beralasan bahwa hukum waris itu bukan termasuk hukum dalam ibadah.

Di samping lontarannya tentang ibadah haji, Masdar juga menyamakan zakat dengan pajak. Padahal ketentuan zakat itu sudah jelas di dalam Al-Qur’an. Sedang yang namanya pemungutan pajak, para ulama berbeda-beda pendapat, baik tentang bolehnya maupun tentang syarat-syaratnya dan kegunaannya. Adapun zakat, sudah jelas merupakan kewajiban bagi muzakki (si wajib zakat). Bahkan merupakan salah satu rukun Islam, hingga Khalifah Abu Bakar pun mengerahkan tentara untuk memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat.
Kalau zakat sama dengan pajak, maka apakah Masdar berani mengatakan bahwa bayar pajak itu merupakan rukun Islam? Kalau toh berani, Islam tidak akan mengakuinya. Padahal justru ada kata-kata Nabi saw yang mengibaratkan taubatnya wanita yang dirajam karena berzina bisa memadai bila dibanding taubatnya pemungut pajak. Apakah kata “pemungut pajak” di situ Masdar berani pula menggantinya dengan “pemungut zakat” yang bahkan Nabi saw pun menugaskan orang untuk memungut zakat?

Walhasil, penyamaan zakat dengan pajak itu adalah satu lontaran yang mengada-ada.

Goenawan Mohammad yang dikenal sebagai pemimpin Majalah Tempo tidak banyak terdengar dalam hal gagasannya tentang Islam. Tetapi waktu geger dunia tentang penghinaan Islam dalam novel ayat-ayat Syetan karangan Salman Rushdi orang India yang tinggal di Inggeris sebelum tahun 1990-an, Goenawan Mohammad sebagai pembela Salman Rushdi berpolemik dengan Ridwan Saidi yang bersama umat Islam sedunia menghujat Salman Rushdi yang menghina Islam. Goenawan Mohammad menulis di Majalah Tempo, waktu itu merupakan majalah mingguan terbesar di Indonesia, sedang Ridwan Saidi dengan nama samaran Abu Jihan menulis lewat Majalah Panji Masyarakat yang waktu itu masih merupakan majalah Islam. Ridwan Saidi menyindir Goenawan Mohammad dengan judul tulisan Gunter Mahound. Mahound adalah kata-kata hinaan yang dilontarkan Ridwan Saidi sebagai tendangan balik. Karena Goenawan membela Salman Rushdie dengan dalih kebebasan mencipta, maka Ridwan melontarkan hinaan lewat tulisan terhadap Goenawan dengan alasan “kebebasan mencipta” pula. Tapi Goenawan sangat marah sampai kini, kata Ridwan.

Djohan Effendi, Deakin University, Australia.
Beliau ini terdaftar resmi sebagai anggota aliran sesat menyesatkan yaitu Ahmadiyah di Yogyakarta. Dia lah yang menyunting buku Catatan Harian Ahmad Wahib yang menggegerkan umat Islam tahun 1981, karena isinya ada 26 point yang menabrak Islam. Faham pluralis dihembuskan dari sana. Djohan Effendi juga melindungi aliran-aliran sesat, baik sebagai APU (Ahli Peneliti Utama) bidang agama di Departemen Agama maupun ketika ia jadi pejabat di Sekretariat Negara jaman Presiden Gusdur tahun 2000M. Sampai-sampai ketika ditanyakan tentang kemungkinan pelarangan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang sebenarnya merupakan aliran Islam Jama’ah yang telah dilarang pemerintah, justru Djohan mengatakan, orang mau ke Kramat Tunggak (tempat pelacuran) saja tidak dilarang, masa’ orang mau beribadah dilarang.

Djohan Effendi juga memimpin rombongan ke Israel bersama Gus Dur di masa Soeharto.

Jalaluddin Rahmat, Yayasan Muthahhari, Bandung.
Tokoh ini menolak hadist shahih riwayat Imam Muslim, Antum a’lamu bi umuuri dunyaakum (kalian lebih tahu tentang rusan-urusan dunia kalian).
Hadits yang jelas shahih, Jalal tolak. Tetapi tasawuf yang tidak ada dalilnya, bahkan rawan kesesatan (untuk lebih jelas tentang kesesatan tadawuf, silahkan baca buku saya, tasawuf Belitan Iblis, dan buku Tasawuf Pluralisme dan Pemurtadan), justru dia jajakan lewat buku-buku maupun ceramahnya, untuk menjajakan Syi’ah, aliran sesat. Dia mengadakan kontrovesri yang sangat nyata. Dia adalah tokoh Ijabi (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait). Dia orang Sunda, menyatakan diri sebagai jama’ah Ahlul Bait (keluarga Nabi saw) padahal Aisyah yang jelas isteri Nabi saw saja tidak dimasukkan sebagai Ahlul Bait oleh kelompok Ijabi itu. Aneh. Memang aliran sesat itu biasanya sering aneh.

Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Dia ini memberi kata pengantar dengan memuji-muji buku Anand Kreshna, keturunan India kelahiran Solo, yang tidak jelas agamanya apa, tetapi isi bukunya itu mencampur aduk aneka ajaran agama. Hanya saja judul-judulnya membahas tentang Islam, bahkan Al-Qur’an. Buku-buku Anand diterbitkan oleh penerbitan Katolik, Gramedia alias Kompas Group di Jakarta. Karena isinya banyak merusak pemahaman Islam, maka dihujat orang lewat Majalah Media Dakwah dan Republika, akhirnya buku-buku Anand Kreshna ditarik dari peredaran oleh penerbitnya. (Silahkan baca selengkapnya ada di buku Tasawuf Pluralisme dan Pemurtadan).

Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta.
Dia ini membolehkan dan menganggap tidak apa-apa wanita Islam dinikahi lelaki Nasrani, dalam kasus artis Ira Wibowo dinikahi Katon Bagaskara. Kata Komar, tidak apa-apa asal tidak mengganggu keimanannya. Pendapatnya itu berlawanan dengan Al-Qur’an:
“Mereka (wanita-wanita beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka.” (QS Al-Mumtahanah/ 60: 10).
Komar juga pernah berbicara di depan orang-orang Nasrani bahwa kalau menang orang Islam maka kalian orang Nasrani dikek (sembelih) semua. Ucapan itu kemudian dimuat di koran Protestan, Sinar Harapan (kini namanya Suara Pembaruan), maka ramai di masyarakat, sehingga Komar khabarnya minta maaf dan meralat.

Said Agil Siraj, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Jakarta.
Tokoh ini khabarnya berbau Syi’ah. Pernah menggegerkan ketika ia berbicara dan menulis makalah yang isinya menuduh bahwa orang-orang Arab, begitu Nabi saw meninggal maka mereka meninggalkan agamanya, dan yang tidak hanya kaum Quraisy, dan itupun bukan karena Islam, tapi karena kesukuan. Karena berani memurtadkan orang-orang sekitar Nabi saw, maka khabarnya Said Agil Siraj ini dikafirkan oleh sekian kiai. Tetapi kemudian ia malah berpendapat lebih aneh lagi, dan dimuat di suatu majalah. Kata Agil Siraj, kalau seseorang berdo’a kepada batu secara khusyu’ maka Allah akan mengabulkan do’anya. Karena kalau tidak, maka Allah akan sama dengan batu.
Ketika Agil Siraj bersaing mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dengan KH Hasyim Muzadi untuk menggantikan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang sedang jadi Presiden, ada slebaran di Muktamar NU di Jawa Timur. Isinya, jangan pilih orang yang suka blusak-blusuk (keluar masuk) ke gereja. Slebaran itu artinya menolak Agil Siraj yang khabarnya suka ceramah di gereja. Akhirnya Agil Siraj kalah.

Itulah kondisi sebagian mereka yang terdaftar dalam Jaringan Islam Liberal. Memang pendapat sebagian mereka itu membuat geger. Kadang membuat geger, dan memang pendapat yang menggegerkan itu adalah pendapat model orang Pluralis ataupun Islam Liberal. Tetapi sosok penulisnya ketika melontarkan gagasan yang menggegerkan kadang tidak ditampilkan.

Kasus itu di antaranya sudah dua kali terjadi di koran Republika. Hingga Republika didemo oleh tokoh-tokoh Islam dari KISDI, Dewan Dakwah, As-Syafi’iyah, Khairu Ummah, BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia) dan lainnya.
Kasus pertama, kaum Pluralis atau kini menyebut dirinya Islam Liberal itu menampilkan pemikiran pluralisme dalam buku Catatan Harian Ahmad Wahib, lalu dimuat panjang lebar oleh Republika.

Kasus kedua, menampilkan artis Nike Ardila, yang mati karena mobilnya menabrak tembok, secara besar-besaran dan berhari-hari. Sampai-sampai di koran Republika yang sahamnya dari umat Islam itu ditulis bahwa Nike Ardila kini tenang tidur di sisi Tuhan.
Artis yang lakonnya sulit untuk diteladani tetapi diucapi dengan derajat setinggi itu (tidur di sisi Tuhan), menjadikan gerahnya para tokoh Islam. Tulisan itu khabarnya memang dibuat oleh orang yang kini ternyata terdaftar dalam Jaringan Islam Liberal tersebut.

2 Comments »

  1. “Jalaluddin Rahmat, Yayasan Muthahhari, Bandung.
    Tokoh ini menolak hadist shahih riwayat Imam Muslim, Antum a’lamu bi umuuri dunyaakum (kalian lebih tahu tentang rusan-urusan dunia kalian).
    Hadits yang jelas shahih, Jalal tolak. Tetapi tasawuf yang tidak ada dalilnya, bahkan rawan kesesatan (untuk lebih jelas tentang kesesatan tadawuf, silahkan baca buku saya, tasawuf Belitan Iblis, dan buku Tasawuf Pluralisme dan Pemurtadan), justru dia jajakan lewat buku-buku maupun ceramahnya, untuk menjajakan Syi’ah, aliran sesat. Dia mengadakan kontrovesri yang sangat nyata. Dia adalah tokoh Ijabi (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait). Dia orang Sunda, menyatakan diri sebagai jama’ah Ahlul Bait (keluarga Nabi saw) padahal Aisyah yang jelas isteri Nabi saw saja tidak dimasukkan sebagai Ahlul Bait oleh kelompok Ijabi itu. Aneh. Memang aliran sesat itu biasanya sering aneh.

    PAHAMI DULU ARGUMEN-ARGUMEN BELIAU. MENGAPA BELIAU MENOLAK HADITS ITU DAN MENERIMA TASAWUF. OK?

    Comment by ressay — Friday, 19 January 2007 @ 11:21 pm | Reply

  2. Akhlaq kang jalal

    Beberapa waktu yang lalu masyarakat berpeluang menyaksikan dialog Nasional Sunni Syi’ah di layar TV. Menurut informasi yang beredar, penganut sunni yang akan berdialog adalah Fauzan Anshari, sementara penganut syi’ah yang akan memaparkan dalil-dalil syar’i kebenaran mazhab syi’ah adalah Jalaluddin Rahmat. Semua menunggu hari dialog dengan penuh penantian.
    Lagi-lagi dari informasi yang beredar, Fauzan berniat mengajak kang Jalal untuk bermubahalah, memohon azab Allah yang disegerakan untuk mengetahui mana yang benar, antara mazhab Fauzan dan mazhab kang Jalal.

    Tapi ternyata masyarakat belum dapat menyaksikan langsung bukti kebenaran masing-masing mazhab, karena jika terjadi mubahalah, selang beberapa waktu akan terjadi sebuah peristiwa buruk, atau siksa, atau kematian dengan kecelakaan pada pihak yang mazhabnya salah, akhirnya masyarakat akan mengerti dengan jelas. Seperti dikutip oleh majalah Sabili, karena merasa ditipu dan dipermainkan, Fauzan membatalkan keikutsertaannya dalam dialog, lalu panitia menghubungi Nabhan Husein yang akhirnya menggantikan Fauzan.

    Pada awal sesi Kang Jalal (biasanya Jalaludin dipanggil dengan panggilan ini) membacakan riwayat dari kitab tafsir Qurtubi tentang sebab turunnya surat Al Ma’arij.
    Sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan syi’ah, ketika dihadapkan dengan nukilan dari literatur induk syi’ah yang menerangkan hakekat mazhabnya, maka mereka segera menasehati lawan dialognya agar tidak membaca nukilan sepotong-sepotong, hendaknya membaca kitab seluruhnya supaya faham maksud perkataan itu dengan jelas, serta jangan percaya pada antek musuh Islam yang menebar fitnah untuk memecah belah ummat, mari kita lupakan perbedaan sepele yang ada antara sunni dan syi’ah untuk menghadapi musuh utama kita, yaitu kaum yahudi.

    Padahal nukilan tadi jelas jelas dari kitab induk yang menjadi pedoman syi’ah. Akhirnya sunni yang kebetulan polos percaya saja dengan jawaban kawan syi’ah tadi. Padahal belum tentu kawan syi’ah tadi sudah pernah melihat langsung nukilan itu di kitab mereka. Karena kitab-kitab literatur induk syi’ah yang memuat salah satu “pusaka” yang harus diikuti oleh ummat Islam, yaitu ajaran ahlulbait, seperti kitab al kafi, biharul anwar, al istibsor dan tahzibul ahkam tidak bisa ditemukan dengan mudah, tidak seperti kitab-kitab hadits ahlussunah yang mudah didapat. Jika memang kita harus mengikuti ahlulbait, mengapa kitab-kitab yang memuat riwayat-riwayat ahlubait tidak diterjemahkan supaya diketahui kaum muslimin secara luas?

    Kang Jalal menukil dari tafsir Qurtubi yang merupakan salah satu literatur induk tafsir ahlussunnah wal jamaah, bukannya dari kitab syi’ah. Pemirsa pasti akan menganggap bahwa nukilan itu adalah pendapat ahlussunah, karena berasal dari salah satu kitab literatur tafsir ahlussunnah.

    Menurut riwayat yang dibaca oleh kang Jalal , bahwa sebab turunnya surat Al Ma’arij yang ayat pertamanya berbunyi : sa’ala saa’ilun bi azaabin waaqi’, artinya seorang telah meminta azab yang pasti akan menimpanya, orang itu adalah Nu’man bin Harits Al Fihri, ketika mendengar bahwa Nabi bersabda pada Ali bahwa ” barang siapa aku(Nabi) menjadi walinya, maka Ali harus menjadi walinya” langsung mengndarai ontanya. Ketika sampai di Abtah (sebuah tempat di kota mekah), dia turun dan menambatkan ontanya, lalu menghadap Nabi dan berkata : wahai Muhammad, kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kamu adalah Rasulullah maka kami terima perintah itu, dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah sholat lima waktu dan ini juga telah kami terima.

    Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berzakat dan kami pun tidak menolaknya, juga dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berpuasa pada bulan ramadhan setiap tahun, kami terima itu. Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berhaji dan kami terima, tapi kamu masih kurang dengan semua ini lalu kamu lebihkan anak pamanmu di atas kami? Apakah hal ini dari Allah atau dari dirimu sendiri? Lalu Nabi menjawab : demi Allah yang tiada tuhan selain dia, perintah ini tidak datang kecuali dari Allah.

    Lalu Harits berpaling sambil mengucapkan doa: “ya Allah jika memang ucapan Muhammad adalah benar, turunkanlah hujan batu dari langit, atau datangkanlah siksa yang pedih kepadaku”. Demi Allah, dia tidak sampe ke ontanya sampai dia dilempar oleh Allah dengan batu mengenai kepala dan menembus duburnya dan dia pun mati. Lalu turunlah ayat pertama surat Al Ma’arij.
    Dalam riwayat ini terdapat beberapa point penting yang akan ditangkap oleh permirsa yang menyaksikan siaran dialog:
    • Yang dimaksud dengan orang kafir yang meminta azab adalah mereka yang kafir dengan pengangkatan Ali.
    • Seolah pengangkatan Ali adalah resmi dari Allah, yang mana menolak pengangkatan Ali sebagai khalifah dihukumi kafir. Karena dengan riwayat ini, orang kafir yang dimaksud adalah mereka yang menolak pengangkatan Ali.
    • Percaya pada pengangkatan Ali adalah termasuk pembeda antara mukmin dan kafir, berarti termasuk pokok agama yang penting.
    • Apakah ahlussunnah yang menolak pengangkatan Ali adalah kafir? Jika kita kembali pada riwayat di atas maka jawabnya “ya”.
    • Menurut riwayat ini surat Al Ma’arij adalah madaniyah, yaitu turun setelah hijrah, karena sabda Nabi pada Ali tersebut diucapkan setelah haji wada’.
    • Riwayat ini adalah dari sumber ahlussunnah, jadi dianggap pendapat ahlussunnah. Seolah Qurtubi dan Ahlussunnah berpendapat seperti itu.
    • Pendapat ahlussunnah yang tidak sesuai dengan syiah dalam masalah pengangkatan Ali sebagai khalifah seolah menyelisihi ajaran ahlussunnah sendiri.

    Setelah dilihat kembali dalam tafsir Qurtubi, ternyata kang Jalal sengaja membaca kutipan yang memperkuat pendapatnya dan tidak membaca keterangan dari tafsir Qurtubi sebelum dan sesudah riwayat yang dibaca itu, alias dia tidak menerapkan nasehat yang biasanya diucapkan oleh seorang syi’ah pada setiap sunni yang ingin menghujat syi’ah dengan nukilan dari literatur syi’ah sendiri. Yaitu memotong nukilan yang sesuai dengan tujuan dan kepentingannya dan menyembunyikan nukilan yang tidak sesuai dengan kepentingan.

    Pada setiap awal tafsir surat, biasanya Qurtubi menjelaskan status surat, apakah surat itu makiyah atau madaniyah. Di awal tafsir surat ma’arij, imam Qurtubi menerangkan bahwa surat Al Ma’arij adalah makkiyyah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Suurotul ma’aarij, makkiyyatun bittifaq. Saya kira kang jalal yang bisa membaca riwayat di tafsir Qurtubi dengan baik dan menterjemahkan dengan bahasa yang “menggerakkan” pasti memahami arti perkataan Qurtubi mengenai waktu turunnya surat ini. Arti kalimat bittifaq adalah dengan kesepakatan seluruh mufassirin. Memang benar, seluruh mufassirin ahlussunnah sepakat bahwa surat Al Ma’arij turun di Makkah, sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Atau jika ada yang tidak setuju dengan statement bahwa seluruh mufassirin ahlussunnah berpendapat demikian, paling tidak Qurtubi sendiri berpendapat demikian.

    Tapi merupakan metode Qurtubi dalam penulisan tafsir, beliau menyebutkan perbedaan pendapat dalam waktu turun sebuah surat jika ada perbedaan dalam hal itu. Bisa dilihat dalam tafsir surat Shaff di mana ada perbedaan mengenai waktu turunnya. Madaniyyatun fi qaulil jami’, fii maa dzakarohul maawardi. Wa qiila innaha makkiyyatun, dzakarohu Annahhas an ibni Abbas. Sementara dalam surat Taghabun Qurtubi membeberkan perbedaan pendapat yang ada mengenai masa turunnya surat ini. Madaniyyatun fi qaulil aktsarin. Wa qala adhahhaku makkiyyatun wa qala alkalbiyyu hiya makkiyyatu wa madaniyyatun.. wa an ibni Abbas anna surata taghabun nazalat bimakkatin, illa ayaatun min akhiriha nazalat bil madinah. Ini jika memang ada perbedaan pendapat mengenai masa turunnya sebuah surat.

    Jika memang kesepakatan ulama adalah surat Al Ma’arij turun di mekkah, lalu mengapa Qurtubi sendiri menukil riwayat yang dibacakan oleh kang Jalal? Qurtubi menukilkan riwayat itu untuk sekedar pengetahuan pembaca bahwa ada riwayat yang mengatakan demikian, tapi riwayat ini tidak digubris oleh Qurtubi karena lemah sehingga tidak mempengaruhi kesepakatan ulama yang menerangkan bahwa surat Al Ma’arij turun di Makkah.

    Dari awal tafsir surat ini amatlah jelas lemahnya pendapat kang Jalal, yang sengaja melewatkan kalimat ini karena jika dibaca akan mementahkan apa yang ingin disampaikan pada pemirsa..

    Kita tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa pelaku hal ini adalah kang Jalal, salah satu “cendikiawan” muslim indonesia yang susah dicari tandingannya karena memiliki skill mengungkapkan pikiran dengan bahasa yang enak, menggerakkan dan ditambah dengan reasoning yang kuat. Akhirnya orang pun “tergerakkan” ketika membaca tulisannya dan mendengar ceramahnya.

    Lalu siapa yang dimaksud dalam surat ini? Siapa yang menantang Allah untuk mendatangkan siksanya? Qurtubi telah menjelaskannya tapi sengaja tidak dibaca oleh kang Jalal. orang itu adalah Nadhr bin Harits, yang mengatakan : Ya Allah jika memang hal ini(ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad)adalah benar maka turunkanlah hujan batu dari langit atau siksalah kami dengan siksa yang pedih”. Perkataan ini dikisahkan Allah pada kita di surat Al Anfal ayat 32. Nadhr bin Harits mati dibunuh setelah perang badar.

    Imam Bukhori menerangkan bahwa yang mengatakan adalah Abu Jahal. Dalam sohih Muslim juga dicantumkan riwayat demikian. Ini semakin memperkuat pendapat Qurtubi, bahwa surat Al Ma’arij turun di mekkah sebelum hijrah. Sementara sabda Nabi yang difahami syi’ah sebagai pelantikan Ali sebagai khalifah terucap setelah haji wada’, di ghadir khum, dalam perjalanan pulang ke Medinah.

    Di sisi lain ada kejanggalan fatal dalam riwayat ini. Riwayat peristiwa ghadir khum tercantum dalam kitab-kitab hadits ahlussunnah, di antaranya adalah sohih muslim, Turmuzi, Nasa’i, Ahmad dan Tobroni. Seluruh riwayat itu mengatakan bahwa Nabi mensabdakan sabdanya di atas saat rombongan haji Rasulullah singgah di Ghadir Khum sepulang dari haji wada’. Tapi riwayat yang dibaca oleh kang Jalal di tafsir Qurtubi menerangkan bahwa Nabi ditanya oleh Harits bin Nu’man Al Fihri di mekah, yaitu di Abtah . Sementara itu kita ketahui bersama bahwa setelah haji wada’, Nabi tidak pernah pergi lagi ke mekkah hingga beliau wafat sekitar tiga bulan setelah haji wada’. Jadi peristiwa dalam riwayat yang dibaca oleh kang Jalal adalah fiktif.

    Kang Jalal memang aktif menulis buku, salah satu buku terakhir kang Jalal berjudul Belajar Cerdas, membahas mengenai otak manusia. Pada pengantar buku kang Jalal menuliskan sebuah “promosi” bagi SMU Plus Muthahhari Bandung. Perlu anda tahu bahwa kang Jalal adalah kepala SMU Plus Muthahhari. Kang Jalal sering merasa terharu ketika mendengar seorang murid SMU Plus Muthahhari mengucapkan do’a dan diikuti oleh murid-murid lainnya :
    Ya Allah
    Sehatkan tubuhku
    Cerdaskan otakku
    Bersihkan hatiku
    Indahkan akhlaqku

    Saya yakin pembaca sepakat dengan saya bahwa perbuataan yang dilakukan kang Jalal saat dialog bukanlah merupakan akhlaq yang terpuji. Ironis memang.
    Walillahil hamdu wal minnah

    sumber: http://www.hakekat.com

    Comment by arrasya — Tuesday, 6 March 2007 @ 12:12 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: