Kumpulan eBook Islami

Friday, 10 March 2006

Pengantar Penulis

Filed under: Bahaya Islam Liberal,e-Book — adji @ 3:07 am

Pengantar Penulis

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan tuntunan dan jelas lagi terang berupa wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk seluruh manusia di dunia ini, sampai akhir zaman.

Shalawat dan salam semoga tetap atas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dan taat dengan baik, sampai akhir zaman.

Pembaca yang budiman, buku kecil ini saya tulis dengan judul Bahaya Islam Liberal: Sekular dan Menyemakan Islam dengan Agama Lain.

Isinya menguraikan tentang sorotan terhadap paham pluralisme yang menyamakan semua agama, plus paham secular, digabung jadi satu yang kini disebut Islam Liberal.

Penamaan Islam Liberal itu sebenarnya belum pas pula, karena seperti uraian Charles Kurzman dalam bukunya, Wacana Islam Liberal, ternyata mencakup tokoh-tokoh yang pandangannya saling bertentangan. Contohnya, Ali Abdul Raziq yang menulis buku bernuansa secular, Al-Islam wa Ushulul Hukm (Mesir 1925), disamakan dengan Rasyid Ridha dan Dhiyauddin Rayis yang justru mengkritik tajam buku sekular itu, yang memasarkan paham sekular dan yang mengkritiknya sama-sama dianggap sebagai tokoh Islam liberal.

Meskipun demikian, penamaan Islam Liberal kepada tokoh-tokoh yang pendapatnya sering bertabrakan dengan Islam itu masih relatif bias dimaklumi. Berbeda dengan mendiang Dr. Harun nasution yang justru mempopulerkan tokoh-tokoh Islam liberal itu dengan sebutan pembaharu. Padahal pembaharu itu dalam istilah Islam adalah mujaddid, yang hal itu direkomendasikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dengan cara memposisikan orang-orang Islam liberal sebagai pembaharu itu, maka mendiang Harun Nasution telah berkesempatan memasarkan misinya, yaitu memuktazilahkan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) se-Indonesia dan perguruan tinggi Islam pada umumnya.

Mendiang Dr. Harun Nasution mengaku, usahanya untuk memuktazilahkan IAIN sudah berhasil, hanya saja dia tidak suka disebut sebagai Muktazilah, karena orang Barat menyebut paham Muktazilah yang telah dibabat oleh Ahlus Sunnah itu dengan sebuatan rasionalis.

Pemasaran paham Muktazilah itu disertai dengan pemutarbalikan fakta sejarah, sehingga para pelontar gagasan yang nyeleneh (aneh) menurut pandangan Islam justru diangkat dengan nama pembaharu. Padahal dalam Islam, pembaharu itu adalah mujaddid, yang mengembalikan Islam sebagaimana aslinya semula. Namun yang diangkat sebagai pembaharu oleh penjaja Muktazilah itu adalah orang-orang yang melontarkan gagasan-gagasan/pemikiran aneh-aneh, yang oleh orang Barat seperti Kurzman disebut Islam liberal, tanpa menyebutnya sebagai tokoh nyeleneh (aneh).

Antara terminology orang Barat dan termonilogi Harun Nasution, sama-sama kurang pas, karena Islam liberal yang dinisbatkan kepada sederet tokoh dari abad 18 sampai akhir abad 20 bukanlah orang-orang dalam satu pemikiran yang seragam. Bahkan saling berhadapan secara tajam. Yang satu revivalis (salafi) dan yang lain nyeleneh, namun dimasukkan dalam satu kategori, yaitu Islam liberal.

Lebih tidak wajar lagi, Harun Nasution main hantam kromo, menyamaratakan, antara yang revivalis (salafi) seperti Muhammad bin Abdul Wahhab dari Saudi Arabia di satu pihak, dan Rifa’at Ath-Thahthawi dari Mesir yang menghalalkan dansa-dansi campur aduk lelaki-perempuan di pihak lain, dicampur jadi satu dengan nama modernis atau pembaharu. Padahal, yang satu memurnikan kembali ajaran Islam, sedang yang lain melontarkan pemikiran yang mengotori Islam, namun disatukan dalam barisan yang namanya kaum modernis.

Pemutarbalikkan itu telah diterapkan secara sistematis di perguruan tinggi Islam se-Indonesia terutama IAIN (Institut Agama Islam Negeri), sehingga yang terjadi adalah kriminalitas keilmuan dalam pendidikan Islam.

Tingkah kriminal itu masih ditambahi pula oleh tokoh lain, yakni Nurcholish Madjid dengan lontaran-lontaran pikiran yang aneh-aneh, yang intinya adalah menyamakan semua agama, dengan nama mentereng, yaitu “pluralisme”. Pandangan beragama yang pluralis itu saja sudah menyalahi Islam, masih pula diaduk dengan pelontaran gagasan sekular, yang menempatkan agama Islam hanya sebagai tuntunan ibadah belaka, bukan untuk mengurusi dunia. Makanya syari’at Islam ditolak untuk mengatur kehidupan modern. Itulah inti gagasan yang ditulis Nurcholish Madjid yang dimuat dalam buku Wacana Islam Liberal yang diedit oleh Charles Kurzman alumni Harvard dan Berkeley, diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Paramadina pimpinan Nurcholish Madjid.

Pandangan Islam yang pluralis plus sekular seperti itulah yang diprogramkan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) untuk dimasyarakatkan.

Karena inti dari Islam liberal itu adalah menolak penerapan syari’at Islam, maka pembahasan di buku ini ditempuh dengan membandingkan antara Darmogandul-Gatoloco yang menolak syari’at Islam di Jawa dengan Nurcholish Madjid sebagai tokoh Islam Liberal.

Dari beberapa sisi ternyata penolakan Darmogandul-Gatoloco terhadap syari’at Islam itu tidak jauh berbeda dengan apa yang ditempuh oleh Nurcholish Madjid, walau relatif Nurcholish agak lebih sopan, karena tidak memakai kata-kata jorok atau porno. Sedang Darmogandul dan Gatoloco menggunakan kata-kata yang cukup jorok dan porno.

Percobaan menolak syari’at Islam ternyata bukan hanya ditempuh oleh Darmogandul dan Gatoloco, namun Djohan Effendi yang tercatat secara resmi sebagai anggota aliran sesat Ahmadiyah mengobarkan pula, dengan menyunting buku Catatan Harian Ahmad Wahib yang diterbitkan oleh LP3ES Jakarta yang ditokohi Dawam Rahardjo, tahun 1981. Buku itu menjajakan paham pluralis dengan menohok Islam sekitar 26 poin. Hingga menimbulkan gelombang protes dari kalangan umat Islam tahun 1982.

Belakangan, setelah tahun 1990-an, paham pluralis dalam Catatan Harian Ahmad Wahib yang sesat itu ditampilkan pula oleh Harian Republika panjang lebar, sehingga mengakibatkan datangnya para tokoh Islam dari KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, As-Syafi’iyah, Khairu Ummah, dan BKSPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia) untuk berdemo ke Republika. Mereka memprotes Republika, karena menyebarkan paham pluralis yang tidak sesuai dengan Islam itu.

Paham pluralis, inklusif, plus sekular yang kini disebut Islam liberal itu meruyak ke mana-mana lewat jalur pendidikan Islam, media massa baik cetak maupun elektronik, paket-paket kajian tasawuf dan sebagainya.

Oleh karena paham itu sebenarnya merusak Islam, maka saya berupaya menjelaskan kepada masyarakat, bagaimana hakekat rusaknya paham Islam liberal itu menurut Islam.

Berbicara Islam mesti pakai dalil, maka saya harapkan kesabaran para pembaca yang budiman, untuk menyimak dalil-dalil yang saya tampilkan untuk menjelaskan tentang sesat dan rusaknya paham pluralis, inklusif, dan sekular yang dicampur aduk menjadi pahan Islam liberal itu.

Saya berharap, buku kecil ini akan merupakan satu bentuk rambu-rambu kecil di tengah jalan strategis, sehingga umat Islam tidak tersesat jalan ke arah pemahaman yang memakai nama Islam namun tidak sesuai dengan Islam itu. Dan kepada para penyebar paham itu, baik yang sudah kadung/terlanjur maupun yang sedang coba-coba, saya punya harapan barangkali saja mereka mau berfikir ulang. Karena bagaimana pun, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan menyempurnakan nur-Nya (agama-Nya) walaupun dibenci oleh orang-orang yang tidak suka padanya.

Bagaimana pun, buku kecil ini hanyalah sebuah tulisan hamba yang diliputi salah dan lupa. Oleh karena itu tentunya banyak kekurangannya. Dengan demikian, saya berharap adanya kritik dan saran dari para pembaca yang budiman, guna memperbaiki edisi-edisi berikutnya, insya Allah.

Akhirnya, mudah-mudahan buku ini bermanfaat dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amien.

Jakarta, Ahad, 9 Ramadhan 1422 H / 28 November 2001 M.

Penulis

Hartono Ahmad Jaiz

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: